Kebudayaan Masyarakat Bali

Posted Senin, 27 Desember 2010 by geg iyan

Ketika Calonarang Menjadi Semakin Garang


Perubahan wajah pertunjukan Calonarang di Bali akhir-akhir ini menarik untuk disimak. Belakangan ini dramatari Calonarang, termasuk kesenian lainnya yang sejenis seperti Wayang Calonarang, Arja Calonarang (Basur), cederung menjadi semakin garang dan menantang dengan ditonjolkannya adegan-adegan yang memperlihatkan pameran kekebalan dan kekuatan batin. Semakin digemarinya unsur pameran ilmu kekebalan seperti ini tampaknya terkait erat dengan kondisi sosial masyarakat kita dewasa ini yang cepat beringas, emosional, dan suka pamer kekuatan dan kekuasaan serta dengan pongah menghalalkan segala macam cara, sekalipun harus mengabaikan ajaran-ajaran agama, untuk mencapai suatu tujuan.< suatu mencapai untuk agama, ajaran-ajaran mengabaikan harus sekalipun cara, macam segala menghalalkan pongah dengan serta kekuasaan dan kekuatan pamer suka emosional, beringas, cepat yang ini dewasa kita masyarakat sosial kondisi erat terkait tampaknya seperti kekebalan ilmu pameran unsur digemarinya Semakin batin. memperlihatkan adegan-adegan ditonjolkannya menantang garang semakin menjadi cederung (Basur), Calonarang Arja Calonarang, Wayang sejenis lainnya kesenian termasuk dramatari Belakangan disimak. menarik akhir-akhir Bali di pertunjukan>
Dramatari Calonarang adalah sebuah seni pertunjukan tradisional Bali yang melakonkan kisah-kisah yang menyangkut pertarungan antara ilmu hitam yang berhaluan kiri (pangiwa) dan ilmu putih yang berhaluan kanan (panengan). Tokoh sentralnya adalah Calonarang atau Walunateng Dirah (si janda raja yang berdiam di Dirah) yang melaksanakan ilmu hitam, dan Empu Bharadah, pendeta brahmana dari Lemah Tulis, yang memegang ajaran ilmu putih. Di dalam kisah ini sesungguhnya terdapat unsur ilmu hitam dan putih secara berimbang. Namun, karena peran Calonarang (dalam wujud matah gede dan rangda) yang dominan, maka citra yang muncul adalah bahwa Calonarang adalah sebuah dramatari tentang ilmu hitam.
sumber:http://sahuta.wordpress.com

Sekilas Tentang Budaya Masyarakat Bali
Bali memiliki budaya yang unik dalam kehidupan masyarakat Bali dengan warna budaya lokal yang sangat kuat.
Sebagaimana dengan wilayah lain di Nusantara, masa-masa awal kehidupan bermasyarakat di Bali dikelompokkan sebagai jaman pra sejarah yang mana tidak ditemukannya gambaran tatanan kehidupan bermasyarakat di Bali, sebagai acuan adalah temuan berbagai peralatan sebagai sarana yang menopang kelangsungan kehidupan masyarakat disaat itu.
sebagaimana dengan kebanyakan wilayah di Nusantara,pada pra sejarah masyarakat Bali meliputi tiga babak tingkatan budaya ; Lapis pertama adalah
masa kehidupan yang bertumpu pada budaya berburu. Secara alamiah, berburu adalah cara mempertahankan kelangsungan hidup yang amat jelas dan mudah dilakukan. Dengan alat-alat sederhana dari bahan batu, yang peninggalannya ditemukan di daerah Sembiran di Bali utara dan wilayah Batur, masyarakat Bali mampu bertahan hidup.
Peninggalan peralatan sejenis yang lebih baik, dengan menggunakan bahan tulang, ditemukan pula di goa Selonding di daerah Bulit, Badung Selatan. Ini menunjukkan bahwa masa berburu melewati masa cukup panjang disertai dengan peningkatan pola pikir yang makin baik.
Waktu berjalan dan semakin membuat masyarakat Bali mulai meninggalkan masa berburu dan masuk pada masa bercocok tanam dengan tatanan kehidupan lebih baik dengan adanya permukiman diyakini sebagai peralihan tatanan hidup manusia Bali dari jaman pra sejarah ke jaman sejarah. membuktikan bahwa kala itu telah terbentuk tatanan masyarakat yang lebih terstruktur.
Pengaruh Hindu dari India yang masuk ke Indonesia diperkirakan memberi dorongan kuat pada budaya di Bali. Masa peralihan ini, yang lazim disebut sebagai masa Bali Kuno antara abad 8 hingga abad 13, dengan amat jelas mengalami perubahan lagi akibat pengaruh Majapahit yang berniat menyatukan Nusantara lewat Sumpah Palapa Gajah Mada di awal abad 13.
Tatanan pemerintahan dan struktur masyarakat mengalami penyesuaian mengikuti pola pemerintahan Majapahit. Benturan budaya lokal Bali Kuno dan budaya Hindu Jawa dari Majapahit dalam bentuk penolakan penduduk Bali menimbulkan berbagai perlawanan di berbagai daerah di Bali. Secara perlahan dan pasti, dengan upaya penyesuaian dan percampuran kedua belah pihak, Bali berhasil menemukan pola budaya yang sesuai dengan pola pikir masyarakat dan keadaan alam Bali.
Model penyesuaian ini kiranya yang kemudian membentuk masyarakat dan budaya Bali yang diwarisi kini menjadi unik dan khas, Pola perkembangan budaya Bali di masa-masa berikutnya, jaman penjajahan dan jaman kemerdekaan, secara alamiah mengikuti alur yang sama yaitu menerima pengaruh luar yang lebur ke dalam warna budaya lokal.

0 komentar:

Poskan Komentar